;

Golongan Ashabul Yamin, Ashabul Syimal dan Ashabul A'raf

Isnin, 27 Julai 2009


Di dalam Al Quran Allah swt. telah berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan menemui kematian.”

(QS. Al Anbiya: 35)

“Sesungguhnya mati yang kamu ingin lari darinya itu ia akan menemui kamu.”

(QS. Al Jumu’ah

Adapun golongan ‘Ashabul yamin’ atau golongan orang yang menerima kitab dari tangan kanan ialah golongan orang-orang shaleh, abrar ataupun golongan ‘muflihun’. Adapun golongan ‘Ashabul yamin’ yaitu orang-orang yang memiliki sekurang-kurangnya Iman dan mereka juga adalah orang yang amal kebajikannya melebihi kejahatannya. Sekalipun golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tidak terlepas menerima hisab dari Allah swt. Mereka agak lambat untuk menempuh ‘Shiratul mustaqim’ disebabkan oleh pemeriksaan terhadap mereka.

Diterangkan bahwa di atas titian ‘Shiratul Mustaqim’ terdapat lima tempat pemeriksaan. Dan lima tempat pemeriksaan itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita terhenti di kelima tempat pemeriksaan itu? Sedangkan sehari di Akhirat dinisbahkan dengan hari dunia adalah selama seribu tahun.

Sebab itu tidak heran mengapa orang-orang ‘Muqarrabin’ itu tidak mau menjadi orang shaleh. Sebab orang shaleh, walaupun masuk ke Surga, terpaksa dihisab terlebih dahulu. Ini sudah tentu menyusahkan mereka. Sebab itu mereka lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah swt. Sebab orang yang mati syahid, langsung dimasukkan oleh Allah swt. ke dalam Surga.

Terpaksa terhenti untuk dihisab di ‘Shiratul Mustaqim’ adalah merupakan penderitaan dan azab bagi golongan muqarrabin. Oleh sebab itu di dalam kitab terutama kitab-kitab Tasawuf diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang abrar/orang soleh adalah merupakan kejahatan bagi golongan muqarrabin. Bagi golongan muqarrabin, sesuatu hal yang dianggap halal tetapi menyebabkan akan dihisab, itu adalah suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang soleh, marilah kita lihat kenyataan Al Imam Ghazali. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa orang yang hendak menjadi orang yang soleh itu mestilah 24 jam yang Allah swt. untukkan kepadanya, 18 jam diisi dengan amal baik. Hanya 6 jam saja waktunya itu digunakan untuk melakukan hal yang mubah.

Adapun golongan yang ketiga yaitu ‘Ashabul syimal’ yaitu golongan yang akan menerima kitab dari tangan kiri. Mereka ini ialah orang Mukmin yang ‘Asi’ atau Mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari kebaikan yang mereka lakukan. Mereka ini akan dimasukkan ke dalam Neraka dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam Surga. Mereka dimasukkan ke dalam Neraka berdasarkan kepada dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah tamat penyiksaan mereka di Neraka, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam Surga.

Adapun golongan yang akhir ialah golongan ‘Ashabul A’raf’ yaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka selamat tidak masuk ke Neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke Surga daripada golongan ‘Ashabul yamin’ yang setelah menempuh sirotul mustaqim, tidak ada halangan lagi untuk masuk ke Surga. Tetapi bagi golongan ‘Ashabul A’raf’, setelah mereka menempuh ‘Shiratul mustaqim’ mereka masih lagi dihadang untuk ke Surga.

Mereka akan didera atau dihukum oleh Allah swt. di ujung ‘Shiratul Mustaqim’. Bagaimana deraan Allah swt. terhadap mereka? Deraan yang dikenakan Allah swt. kepada golongan ‘Ashabul A’raf’ ialah mereka diperintahkan supaya meminta satu amal kebajikan kepada penghuni Surga. Siapa dari golongan mereka yang diberi oleh penghuni Surga satu amal kebajikan, maka dia diperbolehkan untuk masuk ke Surga. Maka mondar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan penghuni-penghuni Surga. Setelah sekian lama, maka barulah Allah swt. masukkan ke dalam hati penghuni Surga untuk memberikan kepada mereka satu amalan kebajikan.

Tetapi anehnya, orang yang mempunyai banyak amal kebajikannya tidak mau langsung memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Sebaliknya mereka yang memberikan amal kebajikannya ialah orang yang mempunyai lebih satu saja amalan kebajikannya.

Maka Allah swt. pun berfirman kepada golongan ini yang antara lain,

“Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai lebih satu amalan

kebajikan, begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku dan terus ke Surga,

maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka dengan ini hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah swt. di Surga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah swt. kepada mereka di Akhirat.